Pagi ini rasanya cukup sejuk, pukul 07.00 lebih tepatnya. Setelah bermeditasi dan berdoa, aku membuka alkitab dan menemukan bacaan yang menarik perhatianku. Ini bacaannya :
1 Timotius 6:17-21
Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman. Kasih karunia menyertai kamu!
Ketika selesai aku membaca bacaan di atas, aku merenungkan soal hidup beberapa waktu terakhir ini baik tentang personal maupun hubungan dengan lingkungan sosial. Rasanya sudah lama aku jauh dari Sang Pencipta meskipun aku tetap merasakan Dia ada disebelahku selalu. Disibukkan dengan pekerjaan alasannya aku pikir, tapi setelah dirasakan dan digali, akunya yang lagi kacau.
Aku mencari sumbernya, aku menemukan bahwa aku tidak secure dengan diriku sendiri. Secara tidak sadar membandingkan diri dengan kehidupan dan pencapaian orang-orang yang ada disekelilingku. Aku riuh dengan pikiranku sendiri yang ga jelas juga apa yang diributkan.
Sampai pada titik dimana aku menyadari bahwa aku perlu kembali pada diriku sendiri dan mulai menuliskan apa saja yang sudah aku capai dari beberapa tahun belakangan ini, tidak mesti soal penghargaan atau omset tinggi tapi bisa dari hal yang nampaknya sederhana seperti overcome rasa takut akan mengambil keputusan, berdamai dengan masa lalu yang tidak mudah, dan lebih connected dengan diri sendiri.
Setelah beberapa waktu, ternyata aku menyadari bahwa aku juga mampu menghadapi hal-hal yang dulu aku takuti, mendengarkan cerita orang tanpa menilai dia seperti apa, lebih mudah mengambil pembelajaran dari kejadian yang menimpa diri sendiri maupun orang lain dan terus mengevolusi diri 1% setiap hari.
Dan yang terakhir, minta Tuhan yang menuntun proses demi proses dan menggunakan kasih-Nya dalam menghadapi masalah, menerima berkat, dan refleksi diri biar terus di dalam rencana-Nya :)
Comments
Post a Comment